Harga Ayam dan Cabai Ikut Meroket Akibat BBM Naik

Kenaikan dari harga BBM baik itu pertalite, solar ataupun pertamax sejak 3 September yang lalu tentunya memiliki dampak yang cukup signifikan bagi perekonomian di Indonesia. Di mana banyak sekali yang merasa dirugikan dengan keputusan pemerintah tersebut apalagi untuk mereka yang mempunyai bisnis di bidang pangan.

Bahkan di pasar pun banyak ibu-ibu rumah tangga yang merasa keberatan ketika mereka akan membeli ayam dan juga cabai yang sudah pasti harganya jadi ikut tinggi padahal sebelumnya harga cabai pun sudah terbilang mahal ditambah dengan fenomena kenaikan BBM ini harganya semakin melonjak.

Dampak kenaikan BBM ke banyak sektor

Sebagaimana yang kamu ketahui bila ketika harga BBM melonjak tentunya akan berdampak pada sektor-sektor lain. Berikut dibawah ini adalah beberapa sektor yang paling banyak terkena dampak dari naiknya harga BBM, yaitu :

Dampak kenaikan BBM pada bahan pangan

Seperti pada yang sudah-sudah terjadi ketika BBM harganya melonjak tentunya akan berpengaruh kepada pendistribusian bahan pakan, bahan pokok dan lain sebagainya. Apabila kamu termasuk seorang yang suka menonton berita.

Tentunya mengetahui apabila sudah banyak pasar tradisional yang penjualnya mulai menaikkan harga barang dagangan dan contohnya seperti beras, cabai, telur bahkan sampai dengan daging ayam pun harganya cukup naik dibandingkan sebelumnya.

Tentunya ketika bahan-bahan pangan ini melonjak mau tidak mau mereka yang membeli dengan maksud untuk dijual kembali baik itu dalam bentuk mentah ataupun sudah menjadi makanan harus juga menaikkan harga.

Apabila hal ini terjadi pastinya bisa membuat daya beli konsumen menjadi berkurang. Jika sudah demikian tentu saja bisa menimbulkan kerugian materil kepada para penjual baik di pasar warung makan resto dan tempat lainnya.

Dampak kenaikan BBM pada perekonomian RI

Menurut Ahmad Nur Hidayat sebagai seorang pakar yang kerap memberikan kritik dan juga sarannya kepada pemerintah, beliau menilai jika naiknya harga BBM khususnya yang bersubsidi ini sangat memberatkan masyarakat. Karena bagaimanapun naiknya harga BBM sudah pasti akan disusul dengan naiknya harga-harga komoditas hidup sehari-hari yang lain.

Dan tentunya kekhawatiran Ahmad Nur Hidayat saat ini sedang dialami oleh masyarakat di Indonesia, khususnya mereka yang memiliki pendapatan tidak tetap seperti driver ojol guru honorer pekerja lepas buruh harian pedagang dan masih banyak lagi.

Selain itu juga dengan adanya kenaikan ini memiliki potensi terjadinya PHK secara massal, disebabkan pabrik pasti juga akan terkena dampak. Hal ini berkaitan dengan permintaan konsumen akan produk yang pastinya akan jauh lebih kecil dibanding sebelumnya, untuk bisa menutupi biaya operasional mau tidak mau pabrik-pabrik tersebut harus mengurangi pegawai.

Dampak kenaikan BBM transportasi

Dampak selanjutnya akan terasa pada kenaikan tarif transportasi, saat ini masyarakat yang kerap menggunakan jasad driver online sudah mulai merasakan kenaikan tarif tersebut karena di beberapa daerah di Indonesia pun harganya dinaikkan mencapai 2700 per km-nya.

Contohnya untuk daerah Jawa Sumatera di luar Jabodetabek biasanya mereka hanya akan mematok tarif Rp 1.850 per km namun saat ini naik menjadi Rp 2.300 per km. Kemudian untuk jasanya sendiri minimal ada pada rentang harga Rp 9.250 sampai dengan Rp 11.500.

Lalu untuk transportasi umum lainnya sudah ada yang mulai menaikkan tarif contohnya seperti di kota Depok dan area Jabotabek lainnya. Gimana dengan adanya kenaikan harga ini sudah pasti menjadi beban tersendiri untuk masyarakat yang biasanya memang menggunakan moda transportasi darat guna menunjang kegiatan sehari-hari mereka.

Dampak kenaikan BBM pada para pengusaha

Dampak terakhir dirasakan oleh para pengusaha di mana Ajib Hamdani selaku ketua komite dari apindo mengatakan jika keputusan menaikkan BBM ini memang terbilang hal yang sulit untuk dilakukan pemerintah. Menurutnya pemerintah juga pastinya sudah mengetahui bahwa akan ada efek atau dampak dari naiknya harga BBM tersebut.

Dampak pertama menurutnya adalah munculnya tekanan pada daya beli serta tingkat konsumsi masyarakat yang dikarenakan pertumbuhan ekonomi saat ini dalam keadaan yang positif. Sebab menurut dia pada kuartal kedua di tahun 2022 pertumbuhan ekonomi di Indonesia sudah mencapai angka 5,44%. Dan untuk memproyeksikan hal tersebut baik daya beli serta kebutuhan konsumsi masyarakat tetaplah harus terjaga dengan baik hingga di akhir tahun 2022 ini.

Hal kedua yang perlu diawasi oleh pemerintah adalah terjadinya inflasi karena bila menurut data di kuartal kedua sebetulnya cukup mengkhawatirkan, sebab angka dari inflasi tersebut sudah menyentuh 4,94% yang mana bila kita lihat dari sisi pemerintah mereka memiliki kisaran inflasi di tiga persen dengan agregat mencapai di akhir tahun. Padahal sebenarnya inflasi ini akan secara langsung menjadi pengurangan untuk kesejahteraan masyarakat di Indonesia.